Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin berbagi cerita
mengenai pengalamannya naik kereta api di India, sebuah negara berkembang yang
kondisi perkeretaapiannya selama ini identic dengan kepadatan penumpang dan
kecelakaan. Pada bulan Oktober 2012 yang lalu, penulis berkesempatan mencicipi
transportasi masal ini selama 20 jam, dari Kota Hyderabad sampai Kota Gwalior.
Kondisi stasiun yang ada di Hyderabad (yang penulis datangi)
tidak jauh berbeda dengan suasana stasiun di Indonesia pada pagi hari, dimana
banyak calon penumpang yang terpaksa tidur di stasiun menunggu keberangkatan
kereta. Keadaan stasiunnya pun tidak bisa dikatakan bersih, karena terlihat
sampah berserakan dan anjing-anjing yang bebas berkeliaran di dalamnya. Hal ini
mungkin terjadi karena pada saat penulis sampai ke stasiun itu, masih pagi hari
dimana kondisi stasiun yang belum terlalu ramai.
Kereta api yang penulis naiki terdiri dari kurang lebih 20
gerbong, yang terbagi menjadi beberapa kelas diantaranya sleeper class economy,
bisnis, dan eksekutif. Dan menurut pengamatan penulis, panjang satu gerbong
kereta India itu hampir sama dengan 1.5 kali panjang gerbong kereta Indonesia.
Jadi walaupun hanya beda 4 gerbong, tapi sudah terasa sangat jauh. Jangan pernah
bayangin kondisinya bakal sama kaya di Indonesia karena jelas beda banget.
![]() |
| Sleeper class |
![]() |
| kaya gini nih interior-nya |
Yang kedua, fasilitas yang disediain (untuk kelas bisnis dan eksekutif) adalah selimut yang cukup tebal, sprei (alas tidur), dan bantal dan selalu diganti dengan yang baru di setiap perjalanan atau setiap ada penumpang yang turun. Sementara di kelas ekonomi hanya disediakan bantal.
seprei, selimut, dan bantal
Yang ketiga, selama
20 jam perjalanan, penulis tidak menjumpai pedagang asongan yang masuk ke dalam
gerbong seperti yang ada di kereta jarak jauh di Indonesia. Selama perjalanan,
yang menjajakan barang dagangan adalah para penjual yang resmi dari kereta
(gerbong makan). Barang-barang yang dijual pun terbatas pada minuman seperti
chai (teh susu), coffee, dan air mineral serta makanan ringan. Tidak hanya itu
saja, saat menjelang makan siang juga dijajakan makanan berat yang cukup
mengenyangkan walau untuk lidah Indonesia rasanya agak sedikit aneh.
makanan kereta (lupa harganya)
Dan yang terakhir, yang membedakan setiap kelas dari sleeper
class ini adalah dari segi jumlah penumpang per bilik dan fasilitas lain,
seperti ac dan toilet. Untuk kelas ekonomi, jumlah penumpang per bilik adalah 6
orang dan tidak terdapat ac atau kipas angin, jadi hanya menggunakan angin
jendela. Kondisi toiletnya pun kurang bersih karena yang menggunakan kelas
ekonomi ini umumnya masyarakat kelas bawah. Kelas bisnis sudah dilengkapi AC,
hanya saja jumlah penumpang per bilik 6 orang dan kondisi toiletnya sedikit
lebih baik daripada kelas ekonomi. Kelas eksekutif jelas memakai AC dan jumlah
penumpang per bilik adalah 4 orang dan kondisi toiletnya jauh lebih bersih.
Untuk masalah harga, jelas setiap kelas sangat berbeda, tetapi yang unik adalah
untuk menaiki kereta ini orang-orang harus memesan tiket jauh-jauh hari dan
tidak bisa mendadak. Bahkan untuk hari-hari tertentu penumpang pun harus waiting list. Di dinding luar setiap
gerbong pun sudah tertempel nama-nama penumpang yang berada di dalam gerbong
tersebut sehingga tidak akan tertukar antara penumpang yang satu dengan yang
lain. Yang juga tidak kalah unik adalah informasi yang tercantum di tiket
kereta api seperti umur dan jenis kelamin. Oh iya, untuk perjalanan dari
Hyderabad-Gwalior dengan jarak kurang lebih 1364 km selama 20 jam perjalanan
dengan kelas bisnis dikenakan biaya sekitar Rs. 1165 atau setara dengan kurang
lebih Rp. 205.000. Murah kan?





