Friday, May 31, 2013

Cerita berkereta di India

       Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin berbagi cerita mengenai pengalamannya naik kereta api di India, sebuah negara berkembang yang kondisi perkeretaapiannya selama ini identic dengan kepadatan penumpang dan kecelakaan. Pada bulan Oktober 2012 yang lalu, penulis berkesempatan mencicipi transportasi masal ini selama 20 jam, dari Kota Hyderabad sampai Kota Gwalior.
       Kondisi stasiun yang ada di Hyderabad (yang penulis datangi) tidak jauh berbeda dengan suasana stasiun di Indonesia pada pagi hari, dimana banyak calon penumpang yang terpaksa tidur di stasiun menunggu keberangkatan kereta. Keadaan stasiunnya pun tidak bisa dikatakan bersih, karena terlihat sampah berserakan dan anjing-anjing yang bebas berkeliaran di dalamnya. Hal ini mungkin terjadi karena pada saat penulis sampai ke stasiun itu, masih pagi hari dimana kondisi stasiun yang belum terlalu ramai.
        Kereta api yang penulis naiki terdiri dari kurang lebih 20 gerbong, yang terbagi menjadi beberapa kelas diantaranya sleeper class economy, bisnis, dan eksekutif. Dan menurut pengamatan penulis, panjang satu gerbong kereta India itu hampir sama dengan 1.5 kali panjang gerbong kereta Indonesia. Jadi walaupun hanya beda 4 gerbong, tapi sudah terasa sangat jauh. Jangan pernah bayangin kondisinya bakal sama kaya di Indonesia karena jelas beda banget.
Sleeper class        
Pertama, sleeper class ini merupakan kereta yang posisi tempat duduknya bisa dijadikan tempat tidur jadi kalau malam bisa tidur selonjoran. Caranya, sandaran kursi yang ada diangkat sampai posisi mendatar dan kemudian dikaitkan dengan gantungan yang sudah ada. Dan untuk menjaga privasi, terdapat korden yang bisa menutupi saat penumpang tertidur.

kaya gini nih interior-nya
Yang kedua, fasilitas yang disediain (untuk kelas bisnis dan eksekutif) adalah selimut yang cukup tebal, sprei (alas tidur), dan bantal dan selalu diganti dengan yang baru di setiap perjalanan atau setiap ada penumpang yang turun. Sementara di kelas ekonomi hanya disediakan bantal.
seprei, selimut, dan bantal

Yang ketiga, selama 20 jam perjalanan, penulis tidak menjumpai pedagang asongan yang masuk ke dalam gerbong seperti yang ada di kereta jarak jauh di Indonesia. Selama perjalanan, yang menjajakan barang dagangan adalah para penjual yang resmi dari kereta (gerbong makan). Barang-barang yang dijual pun terbatas pada minuman seperti chai (teh susu), coffee, dan air mineral serta makanan ringan. Tidak hanya itu saja, saat menjelang makan siang juga dijajakan makanan berat yang cukup mengenyangkan walau untuk lidah Indonesia rasanya agak sedikit aneh.
makanan kereta (lupa harganya)
Dan yang terakhir, yang membedakan setiap kelas dari sleeper class ini adalah dari segi jumlah penumpang per bilik dan fasilitas lain, seperti ac dan toilet. Untuk kelas ekonomi, jumlah penumpang per bilik adalah 6 orang dan tidak terdapat ac atau kipas angin, jadi hanya menggunakan angin jendela. Kondisi toiletnya pun kurang bersih karena yang menggunakan kelas ekonomi ini umumnya masyarakat kelas bawah. Kelas bisnis sudah dilengkapi AC, hanya saja jumlah penumpang per bilik 6 orang dan kondisi toiletnya sedikit lebih baik daripada kelas ekonomi. Kelas eksekutif jelas memakai AC dan jumlah penumpang per bilik adalah 4 orang dan kondisi toiletnya jauh lebih bersih. Untuk masalah harga, jelas setiap kelas sangat berbeda, tetapi yang unik adalah untuk menaiki kereta ini orang-orang harus memesan tiket jauh-jauh hari dan tidak bisa mendadak. Bahkan untuk hari-hari tertentu penumpang pun harus waiting list. Di dinding luar setiap gerbong pun sudah tertempel nama-nama penumpang yang berada di dalam gerbong tersebut sehingga tidak akan tertukar antara penumpang yang satu dengan yang lain. Yang juga tidak kalah unik adalah informasi yang tercantum di tiket kereta api seperti umur dan jenis kelamin. Oh iya, untuk perjalanan dari Hyderabad-Gwalior dengan jarak kurang lebih 1364 km selama 20 jam perjalanan dengan kelas bisnis dikenakan biaya sekitar Rs. 1165 atau setara dengan kurang lebih Rp. 205.000. Murah kan?

No comments:

Post a Comment